Festival Lembah Baliem Yang Mendunia

Festival Lembah Baliem Yang Mendunia
Festival Lembah Baliem awalnya merupakan acara perang antarsuku Dani, Lani, dan Suku Yali sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Sebuah festival yang menjadi ajang adu kekuatan antarsuku dan telah berlangsung turun temurun namun tentunya aman untuk Anda nikmati.
Festival Lembah Baliem berlangsung selama tiga hari dan diselenggarakan setiap bulan Agustus bertepatan dengan bulan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia. Awalnya pertama kali digelar tahun 1989. Yang istimewa bahwa festival ini dimulai dengan skenario pemicu perang.
Festival ini dilaksanakan pada bulan agustus pada tanggal 7-11


FAKTA LEMBAH BALIEM YANG JARANG ORANG TAHU
1. Pusat Pendidikan Agama Islam Terbesar Di Papua
Festival Lembah Baliem Yang Mendunia
Babi dan anjing menjadi mayoritas hewan peliharaan bagi masyarakat Papua. Hal ini memberi kesan bahwa agama yang mereka peluk adalah non-muslim. Namun kenyataannya, di distrik Walesi Papua, masyarakatnya menjadi pemeluk agama islam terbesar di Tanah Papua. Walesi menjadi pusat pendidikan agama islam bagi masyarakat Suku Dani. Di sini terdapat sebuah madrasah dan presantren yang sudah berumur tua.
Perbedaan agama ini tidak lekas menjadi sebuah perpecahan. Mereka bisa hidup rukun satu sama lain. Bahkan tak sedikit dari satu keluarga yang menganut perbedaan keyakinan. Islam memberikan warna berbeda di Tanah Papua. Jika tradisi adat ‘bakar batu’ di Papua biasa menggunakan daging babi, muslim di Walesi Papua menggantinya dengan daging ayam.
2. Tradisi Potong Jari Dan Mandi Lumpur
Festival Lembah Baliem Yang Mendunia
Ungkapan rasa sedih atas kehilangan sanak keluarga bagi Suku Dani di Lembah Baliem yaitu dengan potong jari (ikipalin). Inilah simbol dari rasa sakit dan pedih yang mereka rasakan. Karena bagi masyarakat Suku Dani, jari tangan melambangkan kerukunan, kebersatuan, dan kekuatan dalam diri manusia.
Pemotongan jari ini bisa dilakukan dengan benda tajam, digigit hingga putus atau mengikatnya dengan seutas tali hingga jari mati dan setelahnya baru dipotong. Terdengar sangat mengerikan memang. Namun, seiring perkembangan zaman, aksi potong jari makin ditinggalkan.
Selain potong jari, ada juga aksi mandi lumpur yang memberi makna bahwa setiap manusia yang meninggal akan kembali ke tanah.
3. Pesta Bakar Batu
Festival Lembah Baliem Yang Mendunia
Ini merupakan perayaan atau pesta yang dilakukan oleh Suku Dani di Lembah Baliem ketika mendapati kelahiran, pernikahan, upacara kematian, syukuran, atau euforia setelah perang. Uniknya api yang dibuat tidak menggunakan korek api, melainkan dengan menggesek-gesekkan 2 kayu hingga menimbulkan api, yang lantas kemudian digunakan untuk membakar batu. Batu disusun di atas tumpukan daun yang kemudian akan dimasuki ubi atau babi untuk dimasak. Kegiatan bakar batu membutuhkan gotong royong yang solid. Di sinilah bentuk kerukunan yang paling terlihat.
4. Suku Dani Punya Mumi
Festival Lembah Baliem Yang Mendunia
Di Lembah Baliem, terdapat mumi yang usianya sudah mencapai 300 tahun yang di simpan dalam pilamo (rumah laki-laki). Mumi tersebut bernama Wim Motok Mabel yang merupakan panglima perang. Jasad mumi dipercaya mampu mensejahterakan seluruh keturunannya di masa mendatang.
Previous
Next Post »

4 Comment

Click here for Comment
4 August 2016 at 13:40 ×

wah kita punya mumi, keren

Reply
avatar
5 August 2016 at 03:52 ×

nice artikel, mampir ke www.karyaku.xyz gan

Reply
avatar
5 August 2016 at 08:34 ×

Ngeri juga ya kalau dipotong jarinya, kalau saya mah mendingan kabur deh daripada harus dipotong jarinya.

Reply
avatar
Big Boss
admin
6 August 2016 at 00:24 ×

Nice Artiker gan (y)

Reply
avatar
Thanks for your comment